Tertumpuk maksiat, percikan darah
Gelap dan dingin
Menggerogoti sukma sang pemilik
Lima belas jari
Citra debu matahari yang fana
Terlihat menyinari, dalam perjalanan kematian
Bintang-bintang bersaksi dan kemudian mati
Lima belas jari
Semesta mengingkari
Relung sukma menghakimi
Api terpecik dan menyulut
Para-para jiwa sakit oleh kebekuan
Lima belas jari
Jantung tertembus oleh kehadiranmu
Insan hanya menghirup dan menghembuskan
Hingga mati dalam noda
Yang jadi terbersih olehmu
Lima belas jari
Cukup sudah
Aku olehmu
Ku bukan boneka
Ku muncul saat purnama
Untuk memanggilmu kembali, ke pelukan
Ajal